Friday, May 31

Dia

Dia

Aku lelah. Aku letih. Aku sudah muak dengan dia.
***
            Aku bertemu dengan-nya sekitar akhir tahun 2010, tepatnya pada bulan Oktober. Aku mengenal-nya melalui dunia maya, melalui sebuah situs. Sampai suatu hari, aku ditelepon untuk datang ke tempat teman-nya. Teman-nya inilah yang memperkenalkan aku dengan dia untuk pertama kalinya.
            Awalnya kupikir dia cukup sempurna. Dan dia bisa merubah hidupku yang selama ini blangsak. Tapi ternyata kesan pertama bisa salah. Sangat salah.
            Pada awalnya kisah kami cukup biasa saja. Aku menjalaninya dengan suka cita dan bersemangat. Mungkin aku yang terlalu bodoh atau terlalu naif. Entahlah! Tapi aku coba terus menjalaninya tanpa keluh kesah. Karena kupikir, lebih baik aku coba menjalaninya dengan dia ketimbang tidak melakukan apa pun bukan?
            Namun ternyata, aku tidak cukup kuat menjalaninya. Dia terlalu menekanku hingga aku tidak kuat lagi menahannya. Dan aku meninggalkan-nya untuk mencari dia yang lain. Sejenak kurasakan kebebasan setelah meninggalkan-nya dan menjalani kisah yang baru dengan dia yang lain. Tapi tak bisa kupungkiri, aku masih suka menemui-nya. Dan ternyata aku mencintai-nya lebih dari yang kupikirkan.
            Namun, saat itu aku enggan kembali kepada-nya karena tak mau tertekan lagi oleh tuntutan-tuntutan-nya. Bisa dibilang, apa yang telah aku lakukan tidak pernah dihargai oleh-nya. Bahkan, selalu kurang di mata dia. Namun cinta ternyata bisa benar-benar membuat kita buta. Buta sebuta-butanya.
            Saat kali terakhir aku menemui-nya, dia memintaku untuk kembali pada-nya. Dia menjanjikan aku hal-hal yang manis agar aku mau kembali pada-nya. Memang dia menyatakan tuntutan-tuntutan itu masih ada. Tapi dia tidak memberikan batas waktu untuk semua tuntutan-nya padaku. Kini aku pun bimbang dibuat oleh-nya.
            Teringat semua yang dia katakan, aku jadi tergoda untuk kembali pada dia. Karena disaat itu pula, dia yang sekarang bersamaku pun sudah tidak kuat lagi. Kondisinya sudah kritis. Dan aku sendiri pun tidak kuasa menolong-nya. Betapa jahatnya aku, disaat dia yang sekarang bersamaku sedang kritis, aku malah berpikir untuk kembali pada dia yang menekanku berkali-kali. Ada apa sebenarnya dengan diriku?
            Tak lama setelah pernyataan-nya untuk memintaku kembali, dia yang kini bersamaku mati. Dia sudah tidak bisa bertahan lagi. Dia terlalu sakit untuk bisa sembuh. Dan yang lebih parah, dia disakiti oleh orang kepercayaannya. Saking sakit dan perih hati-nya, dia pun memilih untuk bunuh diri. Meninggalkan dunia yang kejam ini. Dimana saudara pun bisa berubah jadi jahat jika memilih duniawi.
            Saat dia mati, entah kenapa aku merasa lega. Kalian berpikir aku pastilah sangat jahat! Tapi memang itulah kenyataannya. Dengan kematian dia, aku tidak lagi harus memilih antara dia atau dia. Karena dia yang kini telah mati pernah jadi sosok yang sangat baik dalam hidupku. Dia telah mengeluarkan aku dari tekanan-tekanan dia, Sang Penuntut. Dan kini, aku tak perlu menambah beban hati-nya lagi karena hatiku telah condong untuk kembali pada dia, Sang Penuntut.
            Aku memulai lagi kisahku dengan dia di tempat yang baru. Ya! Aku telah memutuskan untuk kembali pada dia lagi. Dan aku terima segala risiko atas segala tuntutan-nya yang ”mungkin” bisa mendewasakan aku.
            Sekian waktu berjalan, dan seiring itu pula kesabaranku ditekan hingga ke dasar oleh dia. Sudah begitu banyak peristiwa yang bikin dada ingin meledak, kepala ingin pecah, dan mulut ingin teriak. Sudah begitu banyak kepahitan yang kutelan saja. Sudah begitu banyak kekecewaan merasuk di jiwa. Tapi mau bagaimana lagi? Inilah yang telah menjadi keputusanku.
            Orang-orang di sekelilingku menyabarkanku. Menyuruhku untuk bertahan terus bersama dia. Mereka bilang, bahwa dengan dia adalah jalan terbaik. Daripada aku pergi dan mencari dia yang lain. Mereka bilang bahwa bersama dia paling tidak hidupku akan terjamin meski semua serba kekurangan.
Tapi bersama dia, hidupku akan seperti ini terus. Tidak maju bahkan mungkin mundur. Bisa saja suatu saat dia yang meninggalkan aku saat dia tidak membutuhkan aku lagi. Dan kebimbangan itu pun datang kembali. Aku ingin pergi lagi dari dia. Tapi aku tidak tahu harus kemana. Aku butuh jaminan agar aku bisa bertahan hidup. Sudahlah! Tidak akan ada habisnya jika terus kupusingkan masalah ini. Dan aku pun tetap menjalani kisahku dengan dia. Huft!
***
            Sore ini, aku bertemu teman lamaku. Dia temanku saat sekolah dasar. Kebetulan dia baru lulus dari perguruan tingginya. Dan layaknya teman lama, kami saling berbincang dan menanyakan tentang kabar masing-masing. Ternyata dia cukup beruntung. Temanku ini memiliki dia yang sangat baik. Padahal temanku ini baru bertemu dengan-nya. Dan pertemuannya pun sangat singkat. Temanku ini diperkenalkan oleh temannya dengan dia. Setelah dikenalkan oleh dia, temanku ini langsung memutuskan untuk menjalin kisah dengan dia. Dan ternyata tanggapan dia pun sangat positif.
            Aku tercengang mendengar cerita temanku tentang dia-nya. Temanku bercerita bahwa dia-nya sangat amat baik. Teramat baik malah. Dia sangat menjamin kesejahteraan temanku ini. Dan tidak ada tuntutan-tuntutan yang diberikan. Malah temanku bilang bahwa dia sangat diberi kebebasan oleh dia-nya. Temanku boleh melakukan apa pun yang dia mau asal sesuai dengan komitmen yang telah temanku dan dia-nya jalin di awal kisah mereka. Dan temanklu bilang bahwa dia-nya senang mengajak orang jalan-jalan ke luar negeri. Dan dengan dia, hidup kita bisa lebih maju. Asal kita mau percaya pada dia dan menjalani proses kisah mereka.
            Demi mendengar kisah temanku itu, aku pun tergiur untuk bisa mengenal dia-nya temanku itu. Tapi, aku berpikir saat itu bahwa mungkin dia-nya temanku itu hanya menerima lulusan sarjana seperti temanku saja untuk bisa menjalin kisah bersama. Ternyata aku salah. Dia benar-benar sangat baik. Dia tidak melihat manusia dari rupa dan bentuknya saja. Tapi lebih ke kepribadian orang tersebut.
            Singkat cerita, aku diam-diam menemui dia-nya temanku itu tanpa sepengetahuan Sang Penuntut. Aku pun berkenalan dengan dia. Dan benar, dia sangat baik. Saat sedang bersama dia, hatiku dipenuhi energi positif dan dia membuatku merasa bahwa aku berharga. Dia tidak menuntut tapi lebih menuntun. Bersama dia, aku merasa bahwa aku hidup. Bahwa aku mempunyai sesuatu dalam diriku yang bisa membuatku menjadi pribadi yang lebih baik dan sukses. Dan aku pun mulai jatuh cinta pada dia. :)
            Setelah semua nasihat, petuah dan masukan yang diberikan oleh dia, aku pun kini lebih semangat menjalani hari-hariku dengan Sang Penuntut. Sebenarnya, dia telah memintaku untuk menjalin kisah dengan-nya, dan aku pun menyetujuinya. Namun, saat itu aku katakan pada dia bahwa aku masih bersama Sang Penuntut dan belum bisa meninggalkan-nya dan menunggu momen yang pas untuk mengatakannya. Dan dia sangat mengerti akan hal itu. Bisa dibilang saat ini, aku sedang berselingkuh. Pasti saat ini kalian sedang mencemoohku lagi karena hal ini. Kamu tahu? Aku tidak perduli!
            Sering aku bercerita dengan temanku yang mengenal dia-nya temanku itu tentang Sang Penuntut. Aku membicarakan semua masalah yang ada antara aku dan Sang Penuntut. Dan temanku itu hanya berkata, “ Kau tahu, kebanyakan orang yang mempunyai masalah, lebih suka fokus kepada masalahnya saja. Namun, terkadang mereka lupa, bahwa yang terpenting adalah fokus dengan solusinya bukan masalahnya. “
            Nasihat temanku itu terus terngiang di telingaku. Dan semakin kupikirkan, masalahku dengan dia, Sang Penuntut, sudah makin menjadi. Dan aku tidak bisa lagi pura-pura untuk tidak perduli akan semua ini.
            Aku mulai mencari solusi yang terbaik untuk masalahku dengan dia. Dan solusi itu adalah aku harus pergi meninggalkannya lagi dan tidak pernah kembali lagi meskipun dia menawarkan akan memberiku gunung emas. Sudah cukup semua perlakuan dan tuntutan dia padaku. Aku harus terlepas dari belenggu ini dan hidup lebih baik tanpa dia. Aku harus bisa membuktikan pada dia, bahwa meski tanpa dia aku bisa  maju. Malah mungkin  jauh lebih baik.
            Aku menyatakan niatku ini pada dia-nya temanku ini. Dan dia menerimanya dengan sangat positif dan mendukung. Dia sangat penuh kedamaian. Bersama dia aku sangat tenteram. Dan dia sangat sabar menungguku.
***
            Pagi ini, aku mengumpulkan keberanian untuk menemui Sang Penuntut untuk menyatakan niatku untuk meningalkan-nya. Tepat seperti dugaanku, dia menawariku lagi dengan hal-hal dan janji-janji yang lebih manis saat aku mengutarakan niatku. Namun, tekadku sudah demikian kuat untuk tidak lagi percaya dengan perkataan-nya.
            Akhirnya dia menyerah untuk melepaskanku setelah adu mulut yang cukup alot. Dia akhirnya rela melepaskanku untuk meraih mimpi dan kebahagiaan. Dia bilang dia akan mendoakanku dengan dia yang baru. Agar aku bisa lebih bahagia. Dia pun meminta maaf atas semua perlakuan dan tuntutan-nya selama kami menjalin kisah. Dan saat itu, aku telah melupakan kebencianku pada dia. Aku memilih untuk membuka lembaran baru lagi untuk hidup yang lebih baik.
            Saat ini bisa dibilang, hatiku sedang melayang-layang menuju awan. Berlebihan memang. Namun, aku tidak bisa menemukan kata-kata yang lain untuk bisa mendeskripsikannya. Hatiku sangat lega. Ternyata benar kata temanku, saat punya masalah jangan hanya fokus pada masalahnya tapi fokuslah pada solusinya. Maka, masalahmu akan selesai tanpa kau sadari.
***
            Lembaran baru sudah dimulai. Mulai hari ini, aku sudah sepenuhnya menjalin kisah hanya dengan dia seorang. Dan aku merasa seperti terlahir kembali. Dengan dia aku merasa sangat damai. Pikiran dan hatiku hanya berisi hal-hal yang positif. Tidak ada lagi prasangka atau emosi yang mengendap dalam hati menghadapi semua peristiwa yang terjadi. Aku sangat bersyukur Tuhan mempertemukan aku dengan dia yang sekarang. Aku pun berterima kasih kepada Tuhan karena telah mempertemukanku dengan Sang Penuntut. Karena tanpa Sang Penuntut, tidak akan ada tolak ukur yang bisa aku jadikan acuan untuk melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Kini, aku lebih mencintai hidupku daripada sebelumnya.
            Kalian pasti bingung kenapa sejak awal aku bercerita aku tidak menyebutkan nama dia. Kalian pasti bertanya-tanya siapa dia sebenarnya? Well, dia yang aku ceritakan disini bukanlah sesosok manusia. Melainkan interpretasi dari pekerjaan yang pernah aku jalani. Dan pekerjaanku yang sekarang adalah yang terbaik menurutku. AKU CINTA DIA! AKU CINTA PEKERJAANKU!

***



No comments:

Post a Comment