The
Killer Teacher, The Lovely Teacher
(Kantin SMAN 64)
“ Ih males banget deh
sama Bu Nani!”, kata seorang anak kelas X kepada temannya.
“ Bu Nani? Siapa tuh?
Emang dia ngajar mata pelajaran apa?”, balas temannya yang juga kelas X namun
berbeda kelas.
“ Matematika. Lha
emang kamu ga diajar sama Bu Nani?”.
“ Gak tuh. Aku diajar
sama Pak Santo. Emang kamu malas kenapa sama Bu Nani? Ngomong-ngomong Bu Nani
tuh yang mana ya?”, tanya temannya dengan tampang yang polos.
“ Itu tuh yang pake
jilbab, yang badannya agak sekel. Yang kalo ke sekolah pakaiannya selalu matching dan yang enggak pernah
ketinggalan adalah bibir merah ala Gwen Stefanie”, jelasnya.
” Ih dia itu tuh
resek banget, kata kakakku dia itu gurunya killer
banget. Terus dia juga galak dan suka ngasih banyak tugas.Udah gitu ya, kalo
bikin catatan katanya harus lengkap dan harus dihias-hias. Pokoknya rempong
(repot, penulis) deh! Udah gitu, aku kan paling gak suka pelajaran matematika
ditambah gurunya killer lagi kayak
dia, mati kutu dah aku!”, tambahnya lagi.
“ Emang sampai
segitunya?”, tanya temannya, dibalas dengan anggukan lesu dari anak pertama.
Aku dan Bevi,
temanku, hanya bisa tersenyum saja mendengar percakapan kedua anak kelas X yang
duduk di sebelah kami , yang sedang menyantap pecel ayam. Karena dulu kami pun
sempat merasakan hal seperti itu saat masih bersekolah di sekolah ini.
Namaku Anvianza.
Sekarang aku sudah lulus dari SMA-ku tercinta ini. Hari ini aku dan Bevi datang
ke sekolah karena kami harus melegalisir fotokopi Ijazah kami untuk keperluan
kuliah. Mendengar percakapan kedua anak kelas X tadi, aku jadi terkenang dengan
pengalamanku saat pertama menjadi murid baru di SMAN 46 ini. Aku juga merasakan
hal yang sama dengan kedua anak yang tadi berbincang di kantin sekolah. Pertama
kali melihat Bu Nani aku juga merasa kalau dia adalah guru yang killer. Dari raut mukanaya saja sudah
terlihat kalau dia itu galak. Hih, pokoknya nyeremin banget deh. Andai saja
anak-anak kelas X itu tahu kalau sebenarnya Bu Nani itu guru yang T-O-P B-G-T.
Wah mereka pasti nyesel ngomong kayak tadi.
Mungkin sebaiknya aku
menceritakan pengalamanku dulu waktu pertama kali masuk ke sekolah ini. Biar
kalian semua tahu alasanku bilang kalau Bu Nani itu guru yang T-O-P B-G-T.
…
(SMAN 64, 3,5 tahun
yang lalu)
Sekarang adalah hari
keempat aku menjadi murid SMAN 46. Setelah tiga hari kemarin menjalani MOS (
Masa Orientasi Siswa), sebagai kewajiban murid baru, yang menyenangkan namun
sangat melelahkan. Wah akhirnya resmi juga aku jadi anak SMA. Rasanya bangga
sekali bisa mengenakan seragam kebangsaan anak SMA: putih abu-abu.
Kebetulan mata
pelajaran hari ini hampir susah semua: Seni Musik, Matematika, Akuntansi, dan
Fisika. Pelajaran pertama hari ini adalah Seni Musik, yang mana gurunya
merangkap juga sebagai Wali Kelas X.6, kelasku. Selama dua jam pertama kami
hanya melakukan pemilihan untuk perangkat organisasi kelas seperti pemilihan ketua dan wakilnya,
sekretaris, bendahara, keamanan,dll. Kami juga membuat daftar piket, denah
tempat duduk, dan saling berkenalan satu sama lain. Setelah pelajaran Seni
Musik selesai, kini tiba pelajaran Matematika. Sebagian murid-murid merasa
takut karena sebagian murid-murid mempunyai kakak yang bersekolah di sekolah
ini juga. Mereka ketakutan karena mereka diberitahu oleh kaka mereka bahwa Bu
Nani, guru yang mengajar mata pelajaran Matematika, galak dan killer. Namun, yang aku rasakan biasa
saja. Karena tidak ada yang meracuni pikiranku dengan doktrin bahwa guru ini killer. Perasaanku netral saja.
Namun apa yang aku
rasakan tiba-tiba berubah. Ketika Bu Nani masuk, suasana pergantian jam
pelajaran yang biasanya ramai, tiba-tiba sepi dan berubah jadi tegang.
Anak-anak yang tadinya ribut saling mengobrol dan bercanda, terdiam. Seorang
wanita setengah baya melangkah masuk ke dalam kelas. Ya, dialah Bu Nani, The Killer Teacher. Pagi ini, Ia
mengenakan baju muslim berwarna putih dan celana berwarna hitam dilengkapi
dengan jilbab berwarna senada dengan celana yang Ia pakai. Ia mengamit buku-buku pelajaran di
tangan kanannya dan menjinjing tas hitamnya di tangan kiri. Yang membuat aku
termangu adalah riasan wajahnya. Ia mengenakan pensil alis berwarna hitam arang
untuk menegaskan alisnya dan pewarna bibir bewarna merah darah. Mungkin itu
yang membuat kesan angker di wajahnya. Hehe, maaf ya Bu.
Bu Nani
memperkenalkan diri di depan kelas. Dari cara dia mempekenalkan diri, dia
terlihat sangat percaya diri. Suaranya tegas dan berwibawa. Ia memandang
seluruh murid di dalam kelas dengan saksama. Memeperhatikan mereka satu per
satu, dari depan ke belakang, dari kiri ke kanan. Tak dinyana aku, yang
kebetulan duduk dua bangku dari depan, pun jadi terpaku menatap sosok di
depanku itu.
“ Selamat pagi,
anak-anak!”, seru Bu Nani.
“ Selamat pagi, Bu!”,
jawab anak-anak serempak.
Bu Nani pun mulai
memperkenalkan diri ke seluruh anak-anak yang ada di kelas. mulai dari nama,
kegiatannya, sampai cerita tentang keluarganya walaupun tidak terlalu detail. Sepertinya aku akan suka pada
guru ini, batinku. Menurutku, dia orang yang baik. Dan ia juga terlihat sangat
relijius. Dalam setiap kesempatan, ia selalu menghubungkan hal-hal yang sedang
dibahas dengan agama dan kebesaran Tuhan.
Matematika memang
bukan mata pelajaran yang paling aku kuasai tapi bukan berarti aku tidak
menyukai dan membenci pelajaran itu. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah
pertama nilaiku dalam mata pelajaran ini memang tidak bagus, tapi selalu cukup
untuk membuat aku naik kelas. karena aku merasa bahwa pelajaran ini tidak
menarik dan juga sangat susah karena kita harus menghafal rumus-rumus dan lain-lain.
Tapi sejak diajar oleh Bu Nani, aku merasa pelajaran matematika jadi sangat
menarik. Bahkan aku rasa aku jadi suka dengan mata pelajaran yang paling banya
dibenci oleh para siswa di sekolah ini.
Cara mengajar Bu Nani
sangat menarik dan mudah dimengerti. Ia juga tidak segan-segan untuk mengulang
materi yang sudah diajarkan kalau masih ada murid yang belum mengerti. Ia
sering menyuruh anak muridnya untuk membuat catatan yang bersih, lengkap, dan
menarik. Katanya, itu bisa membuat kita untuk tidak malas membaca dan membuka
buku catatan kita kalau kita sedang mengerjakan tugas atau soal yang susah. Ia
juga sering menyuruh anak muridnya untuk membuat tugas berupa hasil kerajinan
tangan untuk rumus-rumus yang susah dihapal. Dan nilai dari tugas ini akan diakumulasikan
untuk tambahan nilai pelajaran kita.
Namun, aku akui Bu
Nani memang terkadang galak. Apalagi kalau ada murid yang mengobrol saat dia
menerangkan dan juga murid yang mencontek saat ulangan. Aku rasa karena alasan
itulah Bu Nani disebut guru yang killer.
Tapi bukankah itu hal yang biasa, kalau guru memarahi muridnya yang salah?
Selama guru itu tidak main fisik, menurutku itu masih wajar-wajar saja.
Waktu itu diadakan
Olimpiade Matematika Tingkat Nasional. Dan sekolah kami juga mengirimkan
beberapa wakilnya. Siang itu Bu Nani, masuk ke dalam kelasku. Sesaat sebelum
pelajarannya selesai, ia membagikan hasil ulangan minggu kemarin kepada kami.
Aku mendapat nilai 67. Memang sih tidak terlalu bagus, tapi paling tidak itu
hasil kerjaku sendiri tanpa mencontek pekerjaan temanku. Selesai membagikan
ulangan, Bu Nani berbicara di depan kelas.
“ Anak-anak, minggu
depan sekolah kita akan mengikuti Olimpiade Matematika Tingkat Nasional. Ibu
dan guru-guru matematika yang lain diharuskan memilih murid-murid yang
kira-kira bisa ikut mengikuti olimpiade tersebut. Dan ibu hari ini akan memilih
salah satu dari kelas ini”.
“ Ah, palingan si Uci
yang kepilih. Dia kan anak paling pinter di kelas kita ditambah dia anak
kesayangan Bu Nani. Pasti dia yang akan jadi wakil dari kelas kita”, terdengar
Egy temanku sedang berbisik kepada Aryo, teman sebangkunya.
Tiba-tiba Bu Nani
mengarahkan pandangannya kearah Egy dan berkata, “ Ada yang ingin kamu tanyakan Egy?”. “ Kalau tidak
tolong jangan berbicara saat saya sedang berbicara. Karena saya paling tidak
suka ada murid yang berbicara saat saya sedang berbicara”, kata Bu Nani dengan
suara pelan namun terdengar tegas.
“ Jadi, yang terpilih
dari kelas ini adalah Uci. Uci, kamu bisa kan ikut olimpiade ini?”, lanjut Bu
Nani sambil menatap Uci.
“ Saya, Bu? Ya kalau
menurut ibu saya bisa, saya akan ikut dan berusaha, Bu”, jawab Uci.
“ Bagus kalau begitu.
Nanti kamu bergabung sama wakil-wakil dari kelas lain ya. Oh iya, dari kelas
ini ada satu wakil lagi”, kata Bu Nani.
“ Siapa Bu? Bukannya
di kelas ini yang paling pinter cuma Uci?”, tanya Eka dari bangku paling
belakang.
“ Wakil lain dari
kelas ini adalah Anvianza”, jawab Bu Nani.
“ Apa?”, teriakku
tanpa sadar. Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan Bu Nani barusan. Aku
terpilih untuk ikut dalam olimpiade matematika tingkat nasional, tanyaku dalam
hati. Tidak mungkin,pikirku. Tapi saat aku memperhatikan ke sekeliling, semua
teman-temanku sedang melihat ke arahku. Begitu juga dengan Bu Nani. Ia
melihatku sambil tersenyum. Lama aku terpaku tanpa tahu harus berbuat apa. Aku
tidak percaya aku menjadi wakil untuk ikut lomba olimpiade matematika. Padahal
selama ini nilaiku biasa-biasa saja. Memang aku pernah dapat nilai 8 atau 9
dalam ulangan, tapi itu juga hanya beberapa kali saja.
Tiba-tiba aku
tersadar ketika ada seseorang yang memegang bahuku dan berkata, “ Jadi
bagaimana Vianza? Kira-kira kamu bisa tidak ikut lomba ini?, tanya Bu Nani.
“ Eh, saya Bu..?”,
tanyaku ragu.” Anu, Bu apa Ibu tidak salah? Saya kan tidak terlalu pintar
Matematika Bu”, jawabku.
“ Apa kamu meragukan kemampuan
Ibu untuk memilih wakil?, tanya Bu Nani.
“ Eh bukan begitu Bu
maksud saya, hanya saja…”, aku terdiam sejenak kemudian melanjutkan “…saya
tidak yakin bisa Bu, apalagi lomba itu kan tingkat nasional. Saya rasa saya
bahkan tidak bisa masuk seleksi selanjutnya Bu. Pasti soalnya kan akan
susah-susah Bu”, jawabku ragu-ragu.
“ Jadi kamu mau
menyerah sebelum bertanding? Itu alasannya kenapa nilai kamu pas-pasan dalam
pelajaran saya. Kamu selalu merasa diri kamu tidak mampu makanya tubuh kamu
juga merespon bahwa kamu tidak mampu. Kalau kamu berpikir kamu tidak mampu,
maka tubuh juga akan merespon apa yang kamu rasakan dalam otak kamu sehingga
kamu akan benar-benar menjadi tidak mampu. Karena otak adalah pusat dari segala
aktifitas tubuh kita. Apa yang terjadi di otak akan mengalir ke seluruh tubuh
kamu. Ibu kan selalu mengajarkan pada kalian, ini untuk kalian semua, bahwa
kita sebagai manusia harus berusaha sekuatnya untuk meraih apa yang kita
inginkan, tentunya harus disertai dengan doa. Selanjutnya itu terserah Tuhan,
apakah Ia akan membuat kita berhasil atau gagal. Yang penting kita sudah berusaha
dengan sebaik-baiknya”.
“ Iya, Bu”, jawabku
lesu.
“ Lagipula kalian
masih ingat kan apa yang Ibu bilang pada kalian, Allah berfirman ‘ Aku tidak
akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu berusaha sendiri’. Lagipula
Vianza, walaupun kamu tidak menang atau bahkan tidak lulus ujian seleksi selanjutnya
Ibu tidak akan marah, kok. Kamu masih tetap anak murid Ibu, bukan berarti kamu
kalah Ibu tidak akan menganggap kamu sebagai murid Ibu lagi kan?”.
Aku jadi merasa yakin
untuk ikut olimpiade itu setelah mendengar apa yang Bu Nani bilang, lalu aku
berkata pada Bu Nani, “ Baik Bu, saya akan berusaha dengan sebaiknya. Mohon
bantuannya ya Bu”.
Bu Nani mengangguk.
Lalu bel pun berdering. Menandakan sudah waktunya pulang. Setelah bersiap-siap
dan berdoa, kami melangkah keluar kelas. sepanjang lorong sekolah aku masih
mengingat-ngingat apa yang barusan terjadi di dalam kelas. Ini benar-benar
tidak bisa dipercaya. Aku menjadi salah satu wakil dari sekolah ini untuk ikut
lomba olimpiade matematika tingkat nasional? Unbelieveable! Rasanya tak sabar untuk segera pulang dan
menceritakannya pada Mama.
…
Sekarang aku sudah
naik kelas XI. Aku menjadi salah satu murid jurusan IPA. Berarti aku akan tetap
belajar pelajaran matematika. Dan ternyata Bu Nani menjadi wali kelasku untuk
kelas XI. Wah senangnya diriku. Aku sering bercerita kepada Bu Nani kalau lagi
ada masalah. Teman-temanku juga banyak yang sering curhat padanya. Karena
nasihat dan sarannya sangat ampuh untuk masalah yang sedang kami hadapi.
Ternyata omongan Bu Nani waktu aku kelas X terbukti. Walaupun aku tidak menang lomba
olimpiade matematika atau bahkan hanya sekedar bisa menyelesaikan soal ujian di
olimpiade tersebut, ia masih menganggap aku muridnya. Bahkan sekarang kami juga
bertambah dekat.
Hari pertama Bu Nani
mengajar di kelas XI hanya diisi seperti biasa. Setelah memilih perangkat
organisasi kelas dan semacamnya (aku terpilih sebagai wakil ketua kelas, lho),
kami melanjutkan pelajaran. Kami hanya mengulang materi yang sudah pernah
diajarkan di kelas X. Hari ini berjalan dengan lancar.
Oh, iya salah satu
yang menjadi kebiasaan Bu Nani adalah ia sering mengajak anak didiknya untuk main
kerumahnya. Pernah sekali waktu saat bulan Ramadhan, kami mengadakan acara buka
bersama di rumah Bu Nani. Masing- masing anak ada yang membawa makanan. Padahal
Bu Nani bilang kami tidak perlu bawa makanan. Bu Nani pintar sekali membuat
pizza. Sampai berapa kali pizzanya habis diburu sama anak-anak dalam sekejap.
Padahal pizza itu baru matang, tapi langsung disikat habis sama kami semua. Pas
acara ini, ada kejadian lucu yang terjadi. Di rumah Bu Nani terdapat gazebo di
halaman depan rumahnya. Rumahnya sangat asri. Dipenuhi dengan segala macam
tanaman, sangat hijau sekali. Jadi ceritanya, kami semua, anak muridnya, sedang
berkumpul di halaman depan rumahnya. Sebagian ada yang duduk di bagian teras
rumah dan sebagian ada yang duduk-duduk di gazebo rumahnya. Kebetulan ada teman
sekelas aku yang tambun, namanya Pattar. Ia duduk bersama beberapa anak lain di
gazebo tersebut. Tiba-tiba, gubrak! Ternyata gazebo itu ambruk karena keberatan
penumpang, hehe. Ya jelas aja ambruk, wong
gazebo ukuran 3x2 meter dari kayu itu diduduki oleh 7 orang berukuran sedang
ditambah seorang Pattar yang memiliki bobot tubuh lebih dari rata-rata anak
seusia kami. Alhasil gazebo itu ambruk deh, hehe. Tapi ternyata Bu Nani sama
sekali tidak marah. Emang sih beberapa hari kemudian, beita itu tersebar sampai
ke kelas lain. Tapi itu Bu Nani melakukan karena ia memang senang berbagi
cerita sama anak-anak lain. Dari kejadian itu, setiap kali Bu Nani mengajar di
kelas kami, Bu Nani sering mengungkit kejadian itu yang membuat seisi kelas
jadi terbahak-bahak. Pokoknya kalau diajar sama Bu Nani pasti tidak akan boring deh, pasti selalu ada aja
kejadian yang lucu, menarik, atau heboh.
…
Saat aku kelas XII, Bu Nani memang sudah
tidak menjadi wali kelasku, tapi kami tetap menjalin hubungan yang baik dengan
Bu Nani. Saat mendekati hari ujian nasional, semua guru menasihati kami untuk
berusaha sebaiknya dan belajar yang serius. Begitu juga dengan Bu Nani, dia
bahkan sampai memberikan kami semua latihan soal yang susah-susah setiap dia
mengajar. Katanya, agar saat ujian soal-soalnya akan terasa mudah. Dan ternyata
Bu Nani benar, aku bisa mengerjakan soal ujian nasional dengan baik. Hasilnya
pun sangat memuaskan. Aku mendapat hasil 8.67 di surat ijazahku untuk mata
pelajaran matematika. Dan aku mengerjakan semua itu dengan hasil kerja kerasku
sendiri. Walaupun banyak anak-anak SMA yang
lain mengerjakan ujian nasional dengan cara yang curang. Seperti membeli soal
pada calo ujian nasional. Semua nasihat dari Bu Nani, aku jalani.
Sesaat sebelum ujian, Bu Nani mengundang
semua anak muridnya untuk datang kerumahnya. Bu Nani mengadakan acara doa
bersama menyambut Ujian Nasional. Kami semua datang kerumahnya. Selesai berdoa
bersama, Bu Nani beserta suaminya memberikan beberapa wejangan pada kami yang
sedang mengalami stress mengahadapi
ujian nasional dan kelulusan. Karena angka kelulusan untuk angkatan kami cukup
tinggi. Ia menasihati kami semua untuk berlaku jujur dalam ujian. Ia juga
memberikan dukungan kepada kami semua. Bahkan kepada murid yang belum pernah dia
ajar sekali pun. Nasihat dari beliau yang paling saya ingat adalah setiap kali
sebelum ulangan dimulai dia akan berkata kepada kami semua ‘ Ibu minta kalian
semua berlaku jujur dalam setiap ulangan, karena mungkin Ibu tidak melihat
kalian mencontek tapi ada yang lihat dan tidak pernah tertidur’. Buat aku,
nasihat simpel namun langsung ngena
di hati. Buat saya Bu Nani itu TOP BGT.
…
“ Jadi inget Bu Nani ya, Bev, denger
anak-anak tadi ngomongin Bu Nani. Kira-kira Bu Nani ngajar enggak ya hari
ini?”.
“ Ga tau juga deh. Kita cek aja yuk ke
ruang guru. Kan kita udah selese legalisir ijazah kita”.
“ Ayo deh, semoga aja Bu Nani masuk hari
ini”.
Dan kami pun melenggang bersama ke arah
ruang guru untuk menemui guru favorit kami tersebut, The Killer Teacher. Tapi buat aku dia adalah inspirasi dalam
hidupku. Karena itu ia kusebut, The
Lovely Teacher.