Wednesday, June 19

Tough Time > Sing :)

Hello readers,

How are you today? I hope you all doing well.

Well, it's kinda though lately. Too many probs to handle at the same time. And bringing my mood back to positivity was kinda hard. So, I just try to forget the problems, think positive, laugh more, listens to good motivating music, and seek God for sure (read: pray). 
And Alhamdulillah, those things really help me get my good mood back. Even though I haven't healed completely, but it's getting better. 

I heard one of Owl City's song recently. I've heard it for several times before, but I never listen to its lyrics carefully before. And though, that lyrics made my mood back. 

Here the song,

Shooting Star - Owl City

Close your tired eyes, relaxing them
Count from 1 to 10 and open them
All these heavy thoughts will try to weigh you down, but not this time

Way up in the air, you're finally free, and you can stay up there, right next to me
All this gravity will try to pull you down, but not this time

When the sun goes down and the lights burn out
Then it's time for you to shine
Brighter than the shooting star, so shine no matter where you are
Fill the darkest night with a brilliant light
Cause it's time for you to shine
Brighter than the shooting star, so shine no matter where you are, tonight
Wooh, woohh,woohh...
Brighter than a shooting star
Shine no matter where you are, tonight

Gazing through my eyes, when the fire starts
And fan the flame so hot, it melt our hearts
All the pouring rain, will try to put it out but not this time

Let your colours burn, and brightly burst, in to a million sparks
But all dispersed and illuminate a world
That'll try to bring you down but not this time

Back to *

A thousand heartbeats beating time, and makes this dark planet come alive
So when the lights flicker out tonight, you gotta shine

Back to *



And here's the video:


Have a good day people!
Remember this:

No matter how many problems you have to face, or even how many times you get hurt by someone you never expect hurt you. Stay still, stand up, chin up, and shine like a shooting star. Spread all your love and goodness, in the end God knows who is better. Because we live not to satisfied them. Just enjoy your life and never forget to thank God for everything happened in your life, good or bad. 

Tuesday, June 18

Lebih Dari Indah - A song to you

Bergetar hati ini saat mengingat dirimu
Mungkin saja diri ini tak terlihat olehmu
Aku pahami itu


Bagaimana caranya agar kamu tahu bahwa
Kau lebih dari indah di dalam hati ini
Lewat lagu ini ku ingin kamu menegrti
Aku sayang kamu, ku ingin bersamamu

Meski ku tak pernah tahu, kapan kau akan mengerti
Ku coba tuk bertahan

Back to *




Got Quoted? - HURT


Sometimes not knowing is better than knowing something hurt you.







Especially when the one who hurt you is your own family. #notetoself #positivethingking


Wednesday, June 5

Famous Americans Moslem

I was shocked! Well, today i saw many videos on Youtube. And then, i found a video which made me so shocked! Maybe, I kinda late to knew that but it still amazed me.
I just found out that some famous Americans are moslems, Subhanallah. :)
Who are they? Here i give you the list:

1. The Rapper:
- Snoop Doog ( the rapper ) >> I really shocked when i knew this. Because as all you know that before he was converted to Islam, his life was very unrestrained and uncontrolled. But now, he is getting better.
- Eve
- Akon
- T Pain

2. The Actor/Actress
- Ice Cube ( the actor ) >> It shocked me too! In many movies he acts really vulgar. I really have no idea that he is a Moslem.
- Lewis Arquette
-Iqbal Theba >> The principal on Glee series

3. The Athelete
- Shaquille O'Neal

4. The Show Presenter
- Mehmet Oz a.k.a Doc OZ

5. The Congressman
- Andre Carson
- Keith Ellison

6. Miss USA
- Rima Fakih

I did not mention all of the people. Just a few people whose never i thought were a moslem. Happy for them :))

Check the amazing video, here :)

Good luck! May peace all upon us.
:))

We Are Number One

We all share the same destinations
We all works together as one
In this place there is only one vision
And that's to be the NUMBER ONE

We all have the right combination
Care and quality there's no compromise
Doing the very best will be our mission
It's something that we need to realise
It's something very special in our eyes

We are PRUDENTIAL
Our values mean a lot
We are THE PEOPLE
Who give it all we've got
With a sunny dispositions
We can overcome the odds
Yes we have a valid reason to believe
WE ARE NUMBER ONE


Take one more step (one more step)
Reach out for EXCELLENCE
We'll do whatever it takes to TOUCH THE SKY
And we HELP EACH OTHER reach OUR ASPIRATIONS
We know that we can do it if  WE STRIVE

We are PRUDENTIAL
Our values mean a lot
We are THE PEOPLE
Who give it all we've got
With a sunny dispositions
We can overcome the odds
Yes we have a valid reason to believe
WE ARE NUMBER ONE
WE ARE NUMBER ONE
WE ARE NUMBER ONE....



Love this song so much!! 
<3 <3 <3

Monday, June 3

The Killer Teacher, The Lovely Teacher




(Kantin SMAN 64)

“ Ih males banget deh sama Bu Nani!”, kata seorang anak kelas X kepada temannya.
“ Bu Nani? Siapa tuh? Emang dia ngajar mata pelajaran apa?”, balas temannya yang juga kelas X namun berbeda kelas.
“ Matematika. Lha emang kamu ga diajar sama Bu Nani?”.
“ Gak tuh. Aku diajar sama Pak Santo. Emang kamu malas kenapa sama Bu Nani? Ngomong-ngomong Bu Nani tuh yang mana ya?”, tanya temannya dengan tampang yang polos.
“ Itu tuh yang pake jilbab, yang badannya agak sekel. Yang kalo ke sekolah pakaiannya selalu matching dan yang enggak pernah ketinggalan adalah bibir merah ala Gwen Stefanie”, jelasnya.
” Ih dia itu tuh resek banget, kata kakakku dia itu gurunya killer banget. Terus dia juga galak dan suka ngasih banyak tugas.Udah gitu ya, kalo bikin catatan katanya harus lengkap dan harus dihias-hias. Pokoknya rempong (repot, penulis) deh! Udah gitu, aku kan paling gak suka pelajaran matematika ditambah gurunya killer lagi kayak dia, mati kutu dah aku!”, tambahnya lagi.
“ Emang sampai segitunya?”, tanya temannya, dibalas dengan anggukan lesu dari anak pertama.
Aku dan Bevi, temanku, hanya bisa tersenyum saja mendengar percakapan kedua anak kelas X yang duduk di sebelah kami , yang sedang menyantap pecel ayam. Karena dulu kami pun sempat merasakan hal seperti itu saat masih bersekolah di sekolah ini.
Namaku Anvianza. Sekarang aku sudah lulus dari SMA-ku tercinta ini. Hari ini aku dan Bevi datang ke sekolah karena kami harus melegalisir fotokopi Ijazah kami untuk keperluan kuliah. Mendengar percakapan kedua anak kelas X tadi, aku jadi terkenang dengan pengalamanku saat pertama menjadi murid baru di SMAN 46 ini. Aku juga merasakan hal yang sama dengan kedua anak yang tadi berbincang di kantin sekolah. Pertama kali melihat Bu Nani aku juga merasa kalau dia adalah guru yang killer. Dari raut mukanaya saja sudah terlihat kalau dia itu galak. Hih, pokoknya nyeremin banget deh. Andai saja anak-anak kelas X itu tahu kalau sebenarnya Bu Nani itu guru yang T-O-P B-G-T. Wah mereka pasti nyesel ngomong kayak tadi.
Mungkin sebaiknya aku menceritakan pengalamanku dulu waktu pertama kali masuk ke sekolah ini. Biar kalian semua tahu alasanku bilang kalau Bu Nani itu guru yang T-O-P B-G-T.
(SMAN 64, 3,5 tahun yang lalu)

Sekarang adalah hari keempat aku menjadi murid SMAN 46. Setelah tiga hari kemarin menjalani MOS ( Masa Orientasi Siswa), sebagai kewajiban murid baru, yang menyenangkan namun sangat melelahkan. Wah akhirnya resmi juga aku jadi anak SMA. Rasanya bangga sekali bisa mengenakan seragam kebangsaan anak SMA: putih abu-abu.
Kebetulan mata pelajaran hari ini hampir susah semua: Seni Musik, Matematika, Akuntansi, dan Fisika. Pelajaran pertama hari ini adalah Seni Musik, yang mana gurunya merangkap juga sebagai Wali Kelas X.6, kelasku. Selama dua jam pertama kami hanya melakukan pemilihan untuk perangkat organisasi  kelas seperti pemilihan ketua dan wakilnya, sekretaris, bendahara, keamanan,dll. Kami juga membuat daftar piket, denah tempat duduk, dan saling berkenalan satu sama lain. Setelah pelajaran Seni Musik selesai, kini tiba pelajaran Matematika. Sebagian murid-murid merasa takut karena sebagian murid-murid mempunyai kakak yang bersekolah di sekolah ini juga. Mereka ketakutan karena mereka diberitahu oleh kaka mereka bahwa Bu Nani, guru yang mengajar mata pelajaran Matematika, galak dan killer. Namun, yang aku rasakan biasa saja. Karena tidak ada yang meracuni pikiranku dengan doktrin bahwa guru ini killer. Perasaanku netral saja.
Namun apa yang aku rasakan tiba-tiba berubah. Ketika Bu Nani masuk, suasana pergantian jam pelajaran yang biasanya ramai, tiba-tiba sepi dan berubah jadi tegang. Anak-anak yang tadinya ribut saling mengobrol dan bercanda, terdiam. Seorang wanita setengah baya melangkah masuk ke dalam kelas. Ya, dialah Bu Nani, The Killer Teacher. Pagi ini, Ia mengenakan baju muslim berwarna putih dan celana berwarna hitam dilengkapi dengan jilbab berwarna senada dengan celana yang Ia  pakai. Ia mengamit buku-buku pelajaran di tangan kanannya dan menjinjing tas hitamnya di tangan kiri. Yang membuat aku termangu adalah riasan wajahnya. Ia mengenakan pensil alis berwarna hitam arang untuk menegaskan alisnya dan pewarna bibir bewarna merah darah. Mungkin itu yang membuat kesan angker di wajahnya. Hehe, maaf ya Bu.
Bu Nani memperkenalkan diri di depan kelas. Dari cara dia mempekenalkan diri, dia terlihat sangat percaya diri. Suaranya tegas dan berwibawa. Ia memandang seluruh murid di dalam kelas dengan saksama. Memeperhatikan mereka satu per satu, dari depan ke belakang, dari kiri ke kanan. Tak dinyana aku, yang kebetulan duduk dua bangku dari depan, pun jadi terpaku menatap sosok di depanku itu.
“ Selamat pagi, anak-anak!”, seru Bu Nani.
“ Selamat pagi, Bu!”, jawab anak-anak serempak.
Bu Nani pun mulai memperkenalkan diri ke seluruh anak-anak yang ada di kelas. mulai dari nama, kegiatannya, sampai cerita tentang keluarganya walaupun tidak terlalu detail. Sepertinya aku akan suka pada guru ini, batinku. Menurutku, dia orang yang baik. Dan ia juga terlihat sangat relijius. Dalam setiap kesempatan, ia selalu menghubungkan hal-hal yang sedang dibahas dengan agama dan kebesaran Tuhan.
Matematika memang bukan mata pelajaran yang paling aku kuasai tapi bukan berarti aku tidak menyukai dan membenci pelajaran itu. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama nilaiku dalam mata pelajaran ini memang tidak bagus, tapi selalu cukup untuk membuat aku naik kelas. karena aku merasa bahwa pelajaran ini tidak menarik dan juga sangat susah karena kita harus menghafal rumus-rumus dan lain-lain. Tapi sejak diajar oleh Bu Nani, aku merasa pelajaran matematika jadi sangat menarik. Bahkan aku rasa aku jadi suka dengan mata pelajaran yang paling banya dibenci oleh para siswa di sekolah ini.
Cara mengajar Bu Nani sangat menarik dan mudah dimengerti. Ia juga tidak segan-segan untuk mengulang materi yang sudah diajarkan kalau masih ada murid yang belum mengerti. Ia sering menyuruh anak muridnya untuk membuat catatan yang bersih, lengkap, dan menarik. Katanya, itu bisa membuat kita untuk tidak malas membaca dan membuka buku catatan kita kalau kita sedang mengerjakan tugas atau soal yang susah. Ia juga sering menyuruh anak muridnya untuk membuat tugas berupa hasil kerajinan tangan untuk rumus-rumus yang susah dihapal. Dan nilai dari tugas ini akan diakumulasikan untuk tambahan nilai pelajaran kita.
Namun, aku akui Bu Nani memang terkadang galak. Apalagi kalau ada murid yang mengobrol saat dia menerangkan dan juga murid yang mencontek saat ulangan. Aku rasa karena alasan itulah Bu Nani disebut guru yang killer. Tapi bukankah itu hal yang biasa, kalau guru memarahi muridnya yang salah? Selama guru itu tidak main fisik, menurutku itu masih wajar-wajar saja.
Waktu itu diadakan Olimpiade Matematika Tingkat Nasional. Dan sekolah kami juga mengirimkan beberapa wakilnya. Siang itu Bu Nani, masuk ke dalam kelasku. Sesaat sebelum pelajarannya selesai, ia membagikan hasil ulangan minggu kemarin kepada kami. Aku mendapat nilai 67. Memang sih tidak terlalu bagus, tapi paling tidak itu hasil kerjaku sendiri tanpa mencontek pekerjaan temanku. Selesai membagikan ulangan, Bu Nani berbicara di depan kelas.
“ Anak-anak, minggu depan sekolah kita akan mengikuti Olimpiade Matematika Tingkat Nasional. Ibu dan guru-guru matematika yang lain diharuskan memilih murid-murid yang kira-kira bisa ikut mengikuti olimpiade tersebut. Dan ibu hari ini akan memilih salah satu dari kelas ini”.
“ Ah, palingan si Uci yang kepilih. Dia kan anak paling pinter di kelas kita ditambah dia anak kesayangan Bu Nani. Pasti dia yang akan jadi wakil dari kelas kita”, terdengar Egy temanku sedang berbisik kepada Aryo, teman sebangkunya.
Tiba-tiba Bu Nani mengarahkan pandangannya kearah Egy dan berkata, “ Ada yang  ingin kamu tanyakan Egy?”. “ Kalau tidak tolong jangan berbicara saat saya sedang berbicara. Karena saya paling tidak suka ada murid yang berbicara saat saya sedang berbicara”, kata Bu Nani dengan suara pelan namun terdengar tegas.
“ Jadi, yang terpilih dari kelas ini adalah Uci. Uci, kamu bisa kan ikut olimpiade ini?”, lanjut Bu Nani sambil menatap Uci.
“ Saya, Bu? Ya kalau menurut ibu saya bisa, saya akan ikut dan berusaha, Bu”, jawab Uci.
“ Bagus kalau begitu. Nanti kamu bergabung sama wakil-wakil dari kelas lain ya. Oh iya, dari kelas ini ada satu wakil lagi”, kata Bu Nani.
“ Siapa Bu? Bukannya di kelas ini yang paling pinter cuma Uci?”, tanya Eka dari bangku paling belakang.
“ Wakil lain dari kelas ini adalah Anvianza”, jawab Bu Nani.
“ Apa?”, teriakku tanpa sadar. Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan Bu Nani barusan. Aku terpilih untuk ikut dalam olimpiade matematika tingkat nasional, tanyaku dalam hati. Tidak mungkin,pikirku. Tapi saat aku memperhatikan ke sekeliling, semua teman-temanku sedang melihat ke arahku. Begitu juga dengan Bu Nani. Ia melihatku sambil tersenyum. Lama aku terpaku tanpa tahu harus berbuat apa. Aku tidak percaya aku menjadi wakil untuk ikut lomba olimpiade matematika. Padahal selama ini nilaiku biasa-biasa saja. Memang aku pernah dapat nilai 8 atau 9 dalam ulangan, tapi itu juga hanya beberapa kali saja.
Tiba-tiba aku tersadar ketika ada seseorang yang memegang bahuku dan berkata, “ Jadi bagaimana Vianza? Kira-kira kamu bisa tidak ikut lomba ini?, tanya Bu Nani.
“ Eh, saya Bu..?”, tanyaku ragu.” Anu, Bu apa Ibu tidak salah? Saya kan tidak terlalu pintar Matematika  Bu”, jawabku.
“ Apa kamu meragukan kemampuan Ibu untuk memilih wakil?, tanya Bu Nani.
“ Eh bukan begitu Bu maksud saya, hanya saja…”, aku terdiam sejenak kemudian melanjutkan “…saya tidak yakin bisa Bu, apalagi lomba itu kan tingkat nasional. Saya rasa saya bahkan tidak bisa masuk seleksi selanjutnya Bu. Pasti soalnya kan akan susah-susah Bu”, jawabku ragu-ragu.
“ Jadi kamu mau menyerah sebelum bertanding? Itu alasannya kenapa nilai kamu pas-pasan dalam pelajaran saya. Kamu selalu merasa diri kamu tidak mampu makanya tubuh kamu juga merespon bahwa kamu tidak mampu. Kalau kamu berpikir kamu tidak mampu, maka tubuh juga akan merespon apa yang kamu rasakan dalam otak kamu sehingga kamu akan benar-benar menjadi tidak mampu. Karena otak adalah pusat dari segala aktifitas tubuh kita. Apa yang terjadi di otak akan mengalir ke seluruh tubuh kamu. Ibu kan selalu mengajarkan pada kalian, ini untuk kalian semua, bahwa kita sebagai manusia harus berusaha sekuatnya untuk meraih apa yang kita inginkan, tentunya harus disertai dengan doa. Selanjutnya itu terserah Tuhan, apakah Ia akan membuat kita berhasil atau gagal. Yang penting kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya”.
“ Iya, Bu”, jawabku lesu.
“ Lagipula kalian masih ingat kan apa yang Ibu bilang pada kalian, Allah berfirman ‘ Aku tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu berusaha sendiri’. Lagipula Vianza, walaupun kamu tidak menang atau bahkan tidak lulus ujian seleksi selanjutnya Ibu tidak akan marah, kok. Kamu masih tetap anak murid Ibu, bukan berarti kamu kalah Ibu tidak akan menganggap kamu sebagai murid Ibu lagi kan?”.
Aku jadi merasa yakin untuk ikut olimpiade itu setelah mendengar apa yang Bu Nani bilang, lalu aku berkata pada Bu Nani, “ Baik Bu, saya akan berusaha dengan sebaiknya. Mohon bantuannya ya Bu”.
Bu Nani mengangguk. Lalu bel pun berdering. Menandakan sudah waktunya pulang. Setelah bersiap-siap dan berdoa, kami melangkah keluar kelas. sepanjang lorong sekolah aku masih mengingat-ngingat apa yang barusan terjadi di dalam kelas. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Aku menjadi salah satu wakil dari sekolah ini untuk ikut lomba olimpiade matematika tingkat nasional? Unbelieveable! Rasanya tak sabar untuk segera pulang dan menceritakannya pada Mama.
Sekarang aku sudah naik kelas XI. Aku menjadi salah satu murid jurusan IPA. Berarti aku akan tetap belajar pelajaran matematika. Dan ternyata Bu Nani menjadi wali kelasku untuk kelas XI. Wah senangnya diriku. Aku sering bercerita kepada Bu Nani kalau lagi ada masalah. Teman-temanku juga banyak yang sering curhat padanya. Karena nasihat dan sarannya sangat ampuh untuk masalah yang sedang kami hadapi. Ternyata omongan Bu Nani waktu aku kelas X terbukti. Walaupun aku tidak menang lomba olimpiade matematika atau bahkan hanya sekedar bisa menyelesaikan soal ujian di olimpiade tersebut, ia masih menganggap aku muridnya. Bahkan sekarang kami juga bertambah dekat.
Hari pertama Bu Nani mengajar di kelas XI hanya diisi seperti biasa. Setelah memilih perangkat organisasi kelas dan semacamnya (aku terpilih sebagai wakil ketua kelas, lho), kami melanjutkan pelajaran. Kami hanya mengulang materi yang sudah pernah diajarkan di kelas X. Hari ini berjalan dengan lancar.
Oh, iya salah satu yang menjadi kebiasaan Bu Nani adalah ia sering mengajak anak didiknya untuk main kerumahnya. Pernah sekali waktu saat bulan Ramadhan, kami mengadakan acara buka bersama di rumah Bu Nani. Masing- masing anak ada yang membawa makanan. Padahal Bu Nani bilang kami tidak perlu bawa makanan. Bu Nani pintar sekali membuat pizza. Sampai berapa kali pizzanya habis diburu sama anak-anak dalam sekejap. Padahal pizza itu baru matang, tapi langsung disikat habis sama kami semua. Pas acara ini, ada kejadian lucu yang terjadi. Di rumah Bu Nani terdapat gazebo di halaman depan rumahnya. Rumahnya sangat asri. Dipenuhi dengan segala macam tanaman, sangat hijau sekali. Jadi ceritanya, kami semua, anak muridnya, sedang berkumpul di halaman depan rumahnya. Sebagian ada yang duduk di bagian teras rumah dan sebagian ada yang duduk-duduk di gazebo rumahnya. Kebetulan ada teman sekelas aku yang tambun, namanya Pattar. Ia duduk bersama beberapa anak lain di gazebo tersebut. Tiba-tiba, gubrak! Ternyata gazebo itu ambruk karena keberatan penumpang, hehe. Ya jelas aja ambruk, wong gazebo ukuran 3x2 meter dari kayu itu diduduki oleh 7 orang berukuran sedang ditambah seorang Pattar yang memiliki bobot tubuh lebih dari rata-rata anak seusia kami. Alhasil gazebo itu ambruk deh, hehe. Tapi ternyata Bu Nani sama sekali tidak marah. Emang sih beberapa hari kemudian, beita itu tersebar sampai ke kelas lain. Tapi itu Bu Nani melakukan karena ia memang senang berbagi cerita sama anak-anak lain. Dari kejadian itu, setiap kali Bu Nani mengajar di kelas kami, Bu Nani sering mengungkit kejadian itu yang membuat seisi kelas jadi terbahak-bahak. Pokoknya kalau diajar sama Bu Nani pasti tidak akan boring deh, pasti selalu ada aja kejadian yang lucu, menarik, atau heboh.

      Saat aku kelas XII, Bu Nani memang sudah tidak menjadi wali kelasku, tapi kami tetap menjalin hubungan yang baik dengan Bu Nani. Saat mendekati hari ujian nasional, semua guru menasihati kami untuk berusaha sebaiknya dan belajar yang serius. Begitu juga dengan Bu Nani, dia bahkan sampai memberikan kami semua latihan soal yang susah-susah setiap dia mengajar. Katanya, agar saat ujian soal-soalnya akan terasa mudah. Dan ternyata Bu Nani benar, aku bisa mengerjakan soal ujian nasional dengan baik. Hasilnya pun sangat memuaskan. Aku mendapat hasil 8.67 di surat ijazahku untuk mata pelajaran matematika. Dan aku mengerjakan semua itu dengan hasil kerja kerasku sendiri. Walaupun banyak anak-anak  SMA yang lain mengerjakan ujian nasional dengan cara yang curang. Seperti membeli soal pada calo ujian nasional. Semua nasihat dari Bu Nani, aku jalani.
      Sesaat sebelum ujian, Bu Nani mengundang semua anak muridnya untuk datang kerumahnya. Bu Nani mengadakan acara doa bersama menyambut Ujian Nasional. Kami semua datang kerumahnya. Selesai berdoa bersama, Bu Nani beserta suaminya memberikan beberapa wejangan pada kami yang sedang mengalami stress mengahadapi ujian nasional dan kelulusan. Karena angka kelulusan untuk angkatan kami cukup tinggi. Ia menasihati kami semua untuk berlaku jujur dalam ujian. Ia juga memberikan dukungan kepada kami semua. Bahkan kepada murid yang belum pernah dia ajar sekali pun. Nasihat dari beliau yang paling saya ingat adalah setiap kali sebelum ulangan dimulai dia akan berkata kepada kami semua ‘ Ibu minta kalian semua berlaku jujur dalam setiap ulangan, karena mungkin Ibu tidak melihat kalian mencontek tapi ada yang lihat dan tidak pernah tertidur’. Buat aku, nasihat simpel namun langsung ngena di hati. Buat saya Bu Nani itu TOP BGT.
      “ Jadi inget Bu Nani ya, Bev, denger anak-anak tadi ngomongin Bu Nani. Kira-kira Bu Nani ngajar enggak ya hari ini?”.
      “ Ga tau juga deh. Kita cek aja yuk ke ruang guru. Kan kita udah selese legalisir ijazah kita”.
      “ Ayo deh, semoga aja Bu Nani masuk hari ini”.

      Dan kami pun melenggang bersama ke arah ruang guru untuk menemui guru favorit kami tersebut, The Killer Teacher. Tapi buat aku dia adalah inspirasi dalam hidupku. Karena itu ia kusebut, The Lovely Teacher.