Dia
Aku lelah. Aku letih. Aku sudah muak dengan dia.
***
Aku bertemu dengan-nya sekitar akhir tahun 2010, tepatnya
pada bulan Oktober. Aku mengenal-nya
melalui dunia maya, melalui sebuah situs. Sampai suatu hari, aku ditelepon
untuk datang ke tempat teman-nya.
Teman-nya inilah yang memperkenalkan
aku dengan dia untuk pertama kalinya.
Awalnya kupikir dia cukup sempurna. Dan dia bisa merubah hidupku yang selama ini
blangsak. Tapi ternyata kesan pertama
bisa salah. Sangat salah.
Pada awalnya kisah kami cukup
biasa saja. Aku menjalaninya dengan suka cita dan bersemangat. Mungkin aku yang
terlalu bodoh atau terlalu naif. Entahlah! Tapi aku coba terus menjalaninya
tanpa keluh kesah. Karena kupikir, lebih baik aku coba menjalaninya dengan dia ketimbang tidak melakukan apa pun
bukan?
Namun ternyata, aku tidak
cukup kuat menjalaninya. Dia terlalu
menekanku hingga aku tidak kuat lagi menahannya. Dan aku meninggalkan-nya untuk mencari dia yang lain. Sejenak kurasakan kebebasan setelah meninggalkan-nya dan menjalani kisah yang baru dengan
dia yang lain. Tapi tak bisa
kupungkiri, aku masih suka menemui-nya.
Dan ternyata aku mencintai-nya lebih
dari yang kupikirkan.
Namun, saat itu aku enggan
kembali kepada-nya karena tak mau
tertekan lagi oleh tuntutan-tuntutan-nya.
Bisa dibilang, apa yang telah aku lakukan tidak pernah dihargai oleh-nya. Bahkan, selalu kurang di
mata dia. Namun cinta ternyata bisa
benar-benar membuat kita buta. Buta sebuta-butanya.
Saat kali terakhir aku menemui-nya, dia memintaku untuk kembali pada-nya. Dia menjanjikan aku
hal-hal yang manis agar aku mau kembali pada-nya. Memang dia
menyatakan tuntutan-tuntutan itu masih ada. Tapi dia tidak memberikan batas waktu untuk semua tuntutan-nya padaku. Kini aku pun bimbang dibuat
oleh-nya.
Teringat semua yang dia
katakan, aku jadi tergoda untuk kembali pada dia. Karena disaat itu pula, dia
yang sekarang bersamaku pun sudah tidak kuat lagi. Kondisinya sudah kritis. Dan
aku sendiri pun tidak kuasa menolong-nya.
Betapa jahatnya aku, disaat dia yang
sekarang bersamaku sedang kritis, aku malah berpikir untuk kembali pada dia yang menekanku berkali-kali. Ada apa sebenarnya dengan
diriku?
Tak lama setelah pernyataan-nya untuk memintaku kembali, dia
yang kini bersamaku mati. Dia sudah
tidak bisa bertahan lagi. Dia terlalu
sakit untuk bisa sembuh. Dan yang lebih parah, dia disakiti oleh orang kepercayaannya. Saking sakit dan perih hati-nya, dia
pun memilih untuk bunuh diri. Meninggalkan dunia yang kejam ini. Dimana saudara
pun bisa berubah jadi jahat jika memilih duniawi.
Saat dia mati, entah kenapa aku merasa lega.
Kalian berpikir aku pastilah sangat jahat! Tapi memang itulah kenyataannya.
Dengan kematian dia, aku tidak lagi
harus memilih antara dia atau dia. Karena dia yang kini telah mati pernah jadi sosok yang sangat baik dalam
hidupku. Dia telah mengeluarkan aku
dari tekanan-tekanan dia, Sang Penuntut.
Dan kini, aku tak perlu menambah beban hati-nya
lagi karena hatiku telah condong untuk kembali pada dia, Sang Penuntut.
Aku memulai lagi kisahku dengan dia di tempat yang baru. Ya! Aku telah memutuskan untuk kembali
pada dia lagi. Dan aku terima segala
risiko atas segala tuntutan-nya yang ”mungkin” bisa mendewasakan aku.
Sekian waktu berjalan, dan
seiring itu pula kesabaranku ditekan hingga ke dasar oleh dia. Sudah begitu banyak peristiwa yang bikin dada ingin meledak,
kepala ingin pecah, dan mulut ingin teriak. Sudah begitu banyak kepahitan yang
kutelan saja. Sudah begitu banyak kekecewaan merasuk di jiwa. Tapi mau
bagaimana lagi? Inilah yang telah menjadi keputusanku.
Orang-orang di
sekelilingku menyabarkanku. Menyuruhku untuk bertahan terus bersama dia. Mereka bilang, bahwa dengan dia adalah jalan terbaik. Daripada aku
pergi dan mencari dia yang lain.
Mereka bilang bahwa bersama dia
paling tidak hidupku akan terjamin meski semua serba kekurangan.
Tapi bersama dia,
hidupku akan seperti ini terus. Tidak maju bahkan mungkin mundur. Bisa saja
suatu saat dia yang meninggalkan aku
saat dia tidak membutuhkan aku lagi.
Dan kebimbangan itu pun datang kembali. Aku ingin pergi lagi dari dia. Tapi aku tidak tahu harus kemana.
Aku butuh jaminan agar aku bisa bertahan hidup. Sudahlah! Tidak akan ada
habisnya jika terus kupusingkan masalah ini. Dan aku pun tetap
menjalani kisahku dengan dia. Huft!
***
Sore ini, aku bertemu teman lamaku. Dia temanku saat
sekolah dasar. Kebetulan dia baru lulus dari perguruan tingginya. Dan layaknya
teman lama, kami saling berbincang dan menanyakan tentang kabar masing-masing.
Ternyata dia cukup beruntung. Temanku ini memiliki dia yang sangat baik. Padahal temanku ini baru bertemu dengan-nya. Dan pertemuannya pun sangat
singkat. Temanku ini diperkenalkan oleh temannya dengan dia. Setelah dikenalkan oleh dia,
temanku ini langsung memutuskan untuk menjalin kisah dengan dia. Dan ternyata tanggapan dia pun sangat positif.
Aku tercengang mendengar cerita temanku tentang dia-nya. Temanku bercerita bahwa dia-nya sangat amat baik. Teramat baik
malah. Dia sangat menjamin kesejahteraan temanku ini. Dan tidak ada
tuntutan-tuntutan yang diberikan. Malah temanku bilang bahwa dia sangat diberi
kebebasan oleh dia-nya. Temanku boleh
melakukan apa pun yang dia mau asal sesuai dengan komitmen yang telah temanku
dan dia-nya jalin di awal kisah
mereka. Dan temanklu bilang bahwa dia-nya
senang mengajak orang jalan-jalan ke luar negeri. Dan dengan dia, hidup kita bisa lebih maju. Asal
kita mau percaya pada dia dan
menjalani proses kisah mereka.
Demi mendengar kisah temanku itu, aku pun tergiur untuk
bisa mengenal dia-nya temanku itu.
Tapi, aku berpikir saat itu bahwa mungkin dia-nya
temanku itu hanya menerima lulusan sarjana seperti temanku saja untuk bisa
menjalin kisah bersama. Ternyata aku salah. Dia
benar-benar sangat baik. Dia tidak
melihat manusia dari rupa dan bentuknya saja. Tapi lebih ke kepribadian orang
tersebut.
Singkat cerita, aku diam-diam menemui dia-nya temanku itu tanpa sepengetahuan
Sang Penuntut. Aku pun berkenalan
dengan dia. Dan benar, dia sangat baik. Saat
sedang bersama dia, hatiku dipenuhi
energi positif dan dia membuatku merasa
bahwa aku berharga. Dia tidak
menuntut tapi lebih menuntun. Bersama dia,
aku merasa bahwa aku hidup. Bahwa aku mempunyai sesuatu dalam diriku yang bisa
membuatku menjadi pribadi yang lebih baik dan sukses. Dan aku pun mulai jatuh
cinta pada dia. :)
Setelah semua nasihat, petuah dan masukan yang diberikan
oleh dia, aku pun kini lebih semangat
menjalani hari-hariku dengan Sang Penuntut. Sebenarnya, dia telah memintaku untuk menjalin kisah dengan-nya, dan aku pun menyetujuinya. Namun,
saat itu aku katakan pada dia bahwa aku
masih bersama Sang Penuntut dan belum bisa meninggalkan-nya dan menunggu momen yang pas untuk mengatakannya. Dan dia sangat mengerti akan hal itu. Bisa
dibilang saat ini, aku sedang berselingkuh. Pasti saat ini kalian sedang mencemoohku lagi karena hal ini.
Kamu tahu? Aku tidak perduli!
Sering aku bercerita
dengan temanku yang mengenal dia-nya
temanku itu tentang Sang Penuntut. Aku membicarakan semua masalah yang ada
antara aku dan Sang Penuntut. Dan temanku itu hanya berkata, “ Kau tahu,
kebanyakan orang yang mempunyai masalah, lebih suka fokus kepada masalahnya
saja. Namun, terkadang mereka lupa, bahwa yang terpenting adalah fokus dengan
solusinya bukan masalahnya. “
Nasihat temanku itu terus
terngiang di telingaku. Dan semakin kupikirkan, masalahku dengan dia, Sang Penuntut, sudah makin menjadi.
Dan aku tidak bisa lagi pura-pura untuk tidak perduli akan semua ini.
Aku mulai mencari solusi
yang terbaik untuk masalahku dengan dia.
Dan solusi itu adalah aku harus pergi meninggalkannya lagi dan tidak pernah
kembali lagi meskipun dia menawarkan
akan memberiku gunung emas. Sudah cukup semua perlakuan dan tuntutan
dia padaku. Aku harus terlepas
dari belenggu ini dan hidup lebih baik tanpa dia. Aku harus bisa membuktikan pada dia, bahwa meski tanpa dia
aku bisa maju. Malah mungkin jauh lebih baik.
Aku menyatakan niatku ini pada dia-nya temanku ini. Dan dia
menerimanya dengan sangat positif dan mendukung. Dia sangat penuh kedamaian. Bersama dia
aku sangat tenteram. Dan dia sangat
sabar menungguku.
***
Pagi ini, aku
mengumpulkan keberanian untuk menemui Sang Penuntut untuk menyatakan niatku
untuk meningalkan-nya. Tepat seperti
dugaanku, dia menawariku lagi dengan
hal-hal dan janji-janji yang lebih manis saat aku mengutarakan niatku. Namun,
tekadku sudah demikian kuat untuk tidak lagi percaya dengan perkataan-nya.
Akhirnya dia menyerah untuk melepaskanku setelah
adu mulut yang cukup alot. Dia
akhirnya rela melepaskanku untuk meraih mimpi dan kebahagiaan. Dia bilang dia akan mendoakanku dengan dia
yang baru. Agar aku bisa lebih bahagia. Dia
pun meminta maaf atas semua perlakuan dan tuntutan-nya selama kami menjalin kisah. Dan saat itu, aku telah melupakan
kebencianku pada dia. Aku memilih
untuk membuka lembaran baru lagi untuk hidup yang lebih baik.
Saat
ini bisa dibilang, hatiku sedang melayang-layang menuju awan. Berlebihan
memang. Namun, aku tidak bisa menemukan kata-kata yang lain untuk bisa
mendeskripsikannya. Hatiku sangat lega. Ternyata benar kata temanku, saat punya
masalah jangan hanya fokus pada masalahnya tapi fokuslah pada solusinya. Maka,
masalahmu akan selesai tanpa kau sadari.
***
Lembaran baru sudah dimulai. Mulai hari ini, aku sudah
sepenuhnya menjalin kisah hanya dengan dia
seorang. Dan aku merasa seperti terlahir kembali. Dengan dia aku merasa sangat damai. Pikiran dan hatiku hanya berisi
hal-hal yang positif. Tidak ada lagi prasangka atau emosi yang mengendap dalam
hati menghadapi semua peristiwa yang terjadi. Aku sangat bersyukur Tuhan
mempertemukan aku dengan dia yang
sekarang. Aku pun berterima kasih kepada Tuhan karena telah mempertemukanku
dengan Sang Penuntut. Karena tanpa Sang Penuntut, tidak akan ada tolak ukur
yang bisa aku jadikan acuan untuk melihat mana yang baik dan mana yang buruk.
Kini, aku lebih mencintai hidupku daripada sebelumnya.
Kalian pasti bingung kenapa sejak awal aku bercerita aku
tidak menyebutkan nama dia. Kalian pasti bertanya-tanya siapa dia sebenarnya? Well, dia yang aku ceritakan disini
bukanlah sesosok manusia. Melainkan interpretasi dari pekerjaan yang pernah aku
jalani. Dan pekerjaanku yang sekarang adalah yang terbaik menurutku. AKU CINTA
DIA! AKU CINTA PEKERJAANKU!
***







