Friday, June 17

Di Halte Itu


Di Halte Itu
(Kamis, 4 Februari 2011-Hari Pertama)
                Pagi ini aku terlambat berangkat ke sekolah. Pagi ini ternyata banyak sekali pembeli yang datang ke warung nasi uduk ibuku. Ya, setiap pagi aku selalu membantu ibu dahulu di warung sebelum berangkat sekolah. Karena hanya dari situlah penghasilan keluarga kami. Selama ini ibu yang membanting tulang menghidupi keluarga kecil kami. Yang bisa dilakukan laki-laki yang biasa aku sebut ‘Bapak’ itu tidak lebih dari sekedar duduk-duduk sambil memerintah-merintah orang. Membentak-bentak dan memukul sudah jadi kebiasannya setiap hari. Sebenanya aku sudah muak dengan hidupku. Apalagi dengan bapakku itu. Sama sekali tidak bisa diandalkan.
                “ Mana sih nih angkotnya? Lama banget! Bisa-bisa aku makin telat ini ke sekolahnya”, umpatku.
Kenapa di sebelah sini tidak ada haltenya sih, sungutku dalam hati. Sambil menunggu angkot, aku melihat ke seberang jalan sana. Aku tertegun. Di seberang sana aku melihat pemandangan yang menyayat hati. Seorang nenek tua renta duduk di halte itu. Tanpa gerak, tanpa kata. Hanya duduk saja. Entah apa yang dilakukannya di halte itu. Ia hanya duduk terdiam tanpa berkata apapun. Matanya menerawang jauh, seperti tengah memikirkan sesuatu. Mungkin ia menunggu anaknya atau barangkali cucunya untuk menjemputnya di situ. Mungkin pula ia lupa ingatan, hingga ia lupa jalan kembali kerumahnya. Mungkin menurut orang awam pemandangan itu biasa saja, tapi entah mengapa nenek itu menarik perhatianku.
Aku terus memperhatikan nenek itu dari seberang jalan. Nenek itu berpenampilan sangat lusuh. Entah sudah berapa lama kulit keriputnya itu tak tersentuh air. Entah berapa lama rambutnya yang acak-acakan itu tidak terkena sisir. Nenek itu mengenakan pakaian yang sangat sederhana.  Wajahnya menyiratkan beban hidup yang sangat berat. Orang-orang di halte itu seakan-akan enggan berdekatan dengan nenek itu. Mungkin mereka menyangka nenek itu orang gila. Atau bahkan mungkin mereka enggan karena merasa nenek itu tidak sederajat dengan mereka yang berpenampilan ‘mahal’. Aku terus memperhatikan nenek itu. Tapi sayang, aku tidak bisa memperhatikannya lebih lama karena angkotku sudah datang. Jadi aku memutuskan untuk segera naik angkot itu sebelum aku terlambat lebih lama lagi.
(Jumat, 5 Februari 2011-hari kedua )
                Prang! Bruk!
                Pagi itu terdengar suara piring pecah dan pintu dibanting di rumah kecil itu. Entah apa yang terjadi di dalamnya. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada yang perduli.
                Aku keluar dari kamar dan mendapati bapak yang sedang mengangkat tangannya hendak memukul ibu. Aku langsung menghampiri dan menengahi mereka.
                “ Ada apa sih, Pak?”, tanyaku.
                “ Jangan ikut campur kamu! Ini urusan bapak sama ibumu yang tidak berguna ini”.
                “ Ani bukan mau ikut campur, Pak. Tapi sebenarnya ada apa , Pak?” tanyaku lagi sambil menahan emosi.
                “ Ini nih ibu kamu bukannya jualan malah malas-malasan di kamar. Mau makan apa kita kalau dia hanya malas-malasan saja!”.
                Demi mendengar jawaban bapak yang menghakimi ibu, darahku mendidih. Rasanya ingin aku melempar sesuatu ke wajahnya. Ingin aku merobek mulutnya yang penuh dusta itu. Beraninya ia menyalahkan ibuku seperti itu. Apa dia tidak pernah berkaca, siapa yang setiap hari hanya bisa bermalas-malasan saja. Bukankah seharusnya ia yang membanting tulang menghidupi keluarga kami. Bukankah seharusnya ia yang menjadi nahkoda dalam bahtera hidup kami? Tapi semua itu kusimpan dalam hati. Karena ibu selalu mengajarkanku untuk tetap menghormati bapak meskipun ia seperti itu. Kutahan amarahku semata-mata karena menghormati ibu. Lalu kujawab ayah, “ Ibu kan sedang sakit, wajar kalau ia tidak berjualan hari ini. Kenapa tidak bapak saja yang menggantikan ibu barang sehari-dua hari? Bukankah seharusnya bapak yang mencari nafkah untuk keluarga ini?” Akhirnya kata-kata itu pun keluar dari mulutku.
                “ Jangan kurang ajar kamu ya!”, teriak bapak sembari mengangkat tangannya hendak memukulku. Namun ibu segera bangkit dari tempat tidur dan menahan tangan bapak. Kemudian dengan suara lemah ia berkata, “ Sudah kalian berdua jangan bertengkar,uhuk uhuk! Pak, ibu akan jualan hari ini, tenang saja. Ani, bukankah kamu harus sekolah? Ayo cepat berangkat, nanti kamu terlambat.”
                “ Baik, Bu. Ani berangkat ya. Assalamualaikum.”
                Ibu selalu saja seperti itu. Ia selalu saja mengalah. Ia selalu menganggap keluarganya baik-baik saja. Selalu membela bapak walau ia tahu bapak salah. Sampai kapan bu, kau mau dizalimi oleh laki-laki tidak tahu malu itu . Sampai kapan.  Ia tidak mau bercerai dengan bapak, ia bilang jadi janda itu tidak enak. Selalu jadi bahan omongan orang. Walau berbuat baik, pasti selalu dianggap tidak baik oleh orang. Ibu tidak mau jadi bahan omongan tetangga nak. Setiap aku meminta ibu untuk berpisah dengan bapak , selalu itu jawab ibu. Aku selalu saja begini, hanya bisa berbicara pada diri sendiri. Tidak pernah bisa berbuat sesuatu yang nyata.
                Pagi ini, aku lihat lagi sang nenek tua itu di halte. Semakin hari penampilan nenek itu semakin semrawut saja. Semakin tidak terawat. Aku bertanya-tanya kemana keluarga sang nenek. Apa benar nenek itu sudah kehilangan akalnya. Atau dia lupa ingatan. Apa ada orang yang perduli dengannya? Apa dia sudah makan? Huft, yang aku bisa hanya bertanya. Tiba-tiba aku tersadar. Apa yang aku alami dalam hidupku tak sebanding dengan derita sang nenek. Biarpun keluargaku miskin, tapi kami masih punya penghasilan dari hasil ibu berjualan nasi uduk. Biarpun keluargaku tidak harmonis seperti yang lain, tapi paling tidak kami masih bisa saling berbagi satu sama lain. Tapi nenek itu, entah sudah berapa lama ia di halte itu. Entah apa ia pernah pergi meninggalkan halte itu. Tanpa teman, tanpa saudara. Tanpa makanan, tanpa pakaian, tanpa sesuatu apapun. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mempertemukanku dengan nenek itu. Sehingga aku bisa lebih bersyukur. Kutekadkan hatiku untuk menemui sang nenek, keesokan hari. Karena esok adalah hari libur, maka aku bisa membawakan makanan untuk nenek itu. Tunggu aku ya, Nek!
(Sabtu, 13 Februari 2011)
                Sudah seminggu ini aku tidak berangkat ke sekolah. Karena ternyata penyakit ibu bertambah parah. Jadi aku harus merawat ibu sekaligus membantu ibu jualan karena seperti biasa bapakku itu tidak bisa diandalkan. Alhamdulillah, keadaan ibu sudah membaik. Dan hari ini aku meminta izin pada ibu untuk pergi sebentar ke halte menemui sang nenek sambil membawakan beberapa pakaian dan makanan untuknya. Niatku untuk mengunjungi sang nenek di halte itu pun baru bisa terealisasi hari ini.
“ Bu, Ani pergi menemui sang nenek di halte yang tempo hari Ani ceritakan ya bu.”
“ Iya, Nak. Pergilah. Salam dari ibu untuk nenek itu ya.”
                Aku melangkahkan kakiku dengan riang. Aku membayangkan mengobrol dengan nenek itu. Akhirnya aku akan tahu cerita nenek yang selalu duduk di halte itu. Entah kenapa aku merasa sebahagia ini. Mungkin Tuhan sengaja mempertemukan aku dengan nenek itu agar aku bisa lebih bersyukur dalam menghadapi hidup ini.
                Sesampainya di seberang halte itu, aku tertegun. Tidak ada pemandangan yang biasa aku lihat. Nenek itu sudah tidak ada di halte itu. Kemana nenek itu? Apa dia sakit? Atau dia dibawa Satpol-PP? Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiranku. Aku pun bergegas ke seberang menuju halte itu. Aku menengok kiri-kanan untuk mencari sang nenek. Namun nenek itu tidak ada disana. Aku berinisiatif untuk menanyakan pada orang-orang di sekitar situ. Aku menyamperi abang tukang minuman di sebelah halte.
“ Selamat siang, Bang!”
“ Iya, Neng. Mau beli minum apa?”
“ Oh, enggak Bang. Saya mau numpang tanya sama abang.”
“ Nanya apa, Neng?”
“ Abang tahu enggak nenek yang sering duduk di halte itu,” tanyaku sambil menunjuk ke arah halte. “ Nenek yang berpenampilan semrawut itu lho, Bang.”
“ Oh nenek gila itu? Dia sudah mati 2 hari lalu. Entah dikubur dimana. Kemarin polisi yang mengurusnya. Kasian nenek itu, tidak punya keluarga dan sanak saudara. Mungkin pas dia mati pun tidak ada yang sadar.”
                Aku terkejut mendengar kabar dari abang tukang minuman. Entah kenapa aku merasa sangat sedih. Padahal aku sama sekali tidak ada hubungan darah dengan sang nenek. Aku terlambat! Sekarang aku tidak akan pernah bisa tahu kisah sang nenek. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya.
“ Neng, sodaranya si nenek?”
                Teguran si abang menyadarkanku. Lalu aku pun menjawab, “ Bukan bang. Cuma saya pengen banget ketemu sama nenek itu. Kalau begitu, terima kasih ya Bang. Permisi. Assalamualaikum.”
                Aku berjalan gontai pulang ke rumah. Menenteng kantong yang berisi baju-baju bekas yang masih bisa dipakai di tangan kiriku dan rantang berisi nasi uduk serta lauk-pauk di tangan kananku. Tadinya kedua barang itu akan kuberikan kepada sang nenek. Tapi sekarang sepertinya harapanku itu tidak akan terwujud. Nenek itu sudah bahagia disana. Ternyata Tuhan lebih menyayanginya daripada aku atau bahkan keluarganya. Selamat jalan, Nek! Meskipun aku belum berkenalan denganmu, namun melalu engkau Tuhan telah mengajarkan aku untuk bisa lebih bersyukur menjalani hidup. Kau pasti telah tersenyum bahagia di atas sana bersama dengan Penciptamu.

-Alvianda Dwi A.-

1 comment:

  1. Nice.. two thumbs up, koreksi dikit, tetap perhatikan tanda baca, ada sedikit terlewat saat menyatakan "Keadaan Ibu sudah membaik..." memang sudah di jelaskan pada baris sebelumnya, "Sudah seminggu ini aku tidak bersekolah...", tapi perlu di tegaskan saat masuk baris selanjutnya, contohnya: "Setelah seminggu lebih berlalu, kesehatan ibu pun semakin membaik...", dan yg pasti itu masuk alenia baru...#cm koreksi dikit gak apa2 yak... :p

    ReplyDelete