Sore ini, aku kembali lagi ke jalan setapak itu. Aku berada di ujung jalan setapak itu sekarang. Aku tidak ingin berada disini. Tapi kaki ini membawaku kembali kesini. Aku pun tak mengerti mengapa. Karena aku membenci jalan setapak itu. Terlalu banyak hal buruk yang terjadi di jalan setapak itu menurut orang-orang kampung. Tapi, setiap hari aku selalu berada disini, pada waktu yang sama. Seolah-olah ada seseorang yang menggiringku kesana. Sesuatu yang tak tampak.
Tidak ada yang spesial di jalan setapak itu. Jalan setapak itu hanya jalan biasa yang menghubungkan dua buah kampung. Jalan setapak itu pun sangat sepi dan jarang dilalui oleh orang-orang kampung. Mungkin karena sebagian besar orang di kedua kampung tahu apa yang pernah terjadi di jalan setapak itu. Tapi aku tidak pernah memahami benar apa yang terjadi di jalan setapak itu. Hanya samar-samar bisa kulihat dalam bayanganku. Yang aku tahu, aku seperti mempunyai hubungan batin yang sangat besar namun tak terlihat oleh jalan setapak itu. Dan perasaan yang kurasakan pada jalan setapak itu adalah perasaan benci yang luar biasa besar. Entah mengapa, aku pun tak tahu.
Aku hanyalah anak kampung biasa. Aku tidak mempunyai ayah ataupun ibu. Aku dibesarkan oleh Mak Icih. Kata orang-orang mereka adalah nenekku. Tapi aku yakin kalau aku tidak punya nenek. Dahulu aku ingat aku pernah punya ibu. Namun, anehnya aku tidak bisa mengingat kenangan apapun tentang ibuku. Tapi aku yakin aku punya ibu. Bagaimana mungkin seorang anak bisa lahir tanpa seorang ibu. Benarkan? Sampai umurku 17 tahun ini, aku tidak pernah bisa mengingat kenangan-kenangan dari aku kecil sampai berumur 7 tahun. Seringkali aku bertanya pada Mak Icih tentang masa kecilku. Namun , Ia seperti enggan untuk menceritakannya. Atau mungkin dia memang sudah tidak ingat? Toh umurnya pun sudah mencapai kepala tujuh.
10 tahun yang lalu…
“ Bu, kita mau kemana sih?”, tanya seorang anak kecil kepada ibunya.
“ Pergi dari sini, Nak. Tidak ada lagi yang tersisa untuk kita di kampung biadab ini. Terlalu banyak hal nista di kampung ini, Nak. Ibu tidak ingin pengaruh buruk ini menimpamu”, jawab sang Ibu.
“ Tapi bapak kan tinggal di kampung ini, Bu. Masa kita tinggalin Bapak sendiri? Nanti siapa yang mengurus bapak? Yang ngasih bapak makan?”, tanya sang anak beruntun.
“ Sudahlah, Asep! Jangan kau bicarakan lagi bapakmu yang brengsek itu. Dia tidak baik. Biar saja perempuan binal itu yang mengurus bapakmu. Toh, bapakmu lebih memilih perempuan itu daripada ibu!”.
Sang anak terdiam mendengar jawaban ibunya. Sejujurnya dia tidak terlalu mengerti apa yang dimaksudkan ibunya. Tapi ia enggan untuk berdebat dengan ibunya. Karena yang ia lihat, ibunya sangat letih dan penuh dengan peluh. Sang ibu pun terdiam. Ia menyesal. Seharusnya ia tidak melampiaskan kemarahannya ke sang anak. Kemarahan karena sang suami yang brengsek bermain wanita di hadapannya. Yang setiap hari hanya bisa memukulinya, mencuri uangnya, dan selingkuh di depan matanya.
Sang ibu dan anak berjalan sore itu di jalan setapak yang menghubungkan kedua kampung. Mereka pergi meninggalkan kampungnya yang lama dan berniat pergi ke kampung seberang untuk memulai hidup yang baru disana. Petang itu, jalan setapak itu sangat lengang. Ya, jalan setapak itu memang hanya ramai saat pagi saja. Saat orang-orang pergi ke sawah di tepi-tepi jalan setapak itu. Menjelang petang, biasanya para petani sudah sampai dirumah masing-masing.
Ibu dan anak itu terus berjalan. Jarak antara kedua kampung itu memang lumayan jauh. Sang anak meminta kepada ibunya untuk berhenti sejenak karena ia sudah kelelahan. Mereka memang belum makan apapun dari pagi. Namun, sang ibu memaksa sang anak untuk terus berjalan. Jalan setapak itu tidak diterangi oleh lampu jalanan. Karena itu sang ibu ingin sampai di kampung seberang sebelum gelap.
Tiba-tiba ada suara derum motor di belakang mereka. Mereka pun menoleh untuk melihat siapa gerangan yang lewat. Sang ibu berpikir mungkin mereka bisa ikut menumpang. Namun, sang ibu panik saat melihat ternyata segerombolan orang yang naik motor itu adalah preman-preman kampung yang suka memalak warga dan berbuat keonaran. Sang ibu pun segera menarik lengan anaknya untuk lari dari situ. Namun, sayangnya preman-preman itu sudah melihat mereka. Mereka menghadang sang ibu dan anak itu. Mereka berjumlah empat orang. Salah seorang dari mereka maju dan menarik sang anak menjauh dari ibunya. Dan tiga orang preman lainnya maju mendekati sang ibu. Mereka mulai menarik-narik baju sang ibu. Sang ibu dan anak berusaha melawan. Namun sayang mereka tidak berdaya. Mereka berteriak-teriak minta tolong, namun tak ada yang mendengar mereka.
Akhirnya para biadab itu melampiaskan nafsu hewani mereka kepada sang ibu malang tersebut. Sang anak hanya bisa melihat ibunya dipersetubuhi oleh ketiga lelaki biadab itu. Ia menangis karena tahu itu tidak baik untuk ibunya. Meskipun ia tidak mengerti apa yang ketiga pemuda itu lakukan terhadap ibunya. Yang ia tahu, ibunya menangis dan memberontak terus menerus. Sampai akhirnya ibunya diam, karena sudah tidak snaggup melawan lagi. Tiba-tiba sang preman ke-empat melemparnya ke pematang sawah. Kepalanya terbentur batu dan berdarah-darah. Sang ibu yang melihat hal tersebut langsung berteriak histeris, ” Tidak! Asep!.” Sang anak hanya bisa mendengar dua kata itu sebelum ia tak sadarkan diri. Entah ia pingsan atau mati. Yang jelas sawah disekitarnya berubah warna menjadi merah pekat.
Setelah melampiaskan nafsu mereka, preman-preman itu pun ikut membunuh sang ibu dengan mencekiknya sampai mati. Tak ada saksi satupun yang melihat aksi mereka. Hanya Tuhan yang mengawasi gerak-gerik mereka. Tapi mereka sudah tidak perduli akan Tuhan. Mereka meninggalkan jalan setapak itu tanpa rasa bersalah sedikitpun karena telah menodai serta mengambil nyawa seorang ibu dan anaknya. Bahkan mereka tertawa sepanjang perjalanan seolah-olah bangga dengan apa yang telah mereka perbuat.
Keesokan paginya seorang nenek lewat di jalan setapak itu. Ia melihat ada dua onggok mayat tergeletak di pematang sawah. Ia langsung berteriak minta tolong. Namun sayang, sang ibu sudah tidak bernyawa. Namun sang anak masih bisa diselamatkan,meskipun ia mengalami gegar otak yang cukup parah. Nenek itu biasa dipanggil Mak Icih. Karena kasian terhadap anak itu, akhirnya iya pun merawat anak itu seperti cucunya sendiri.
Sekarang...
“ Cu, ayo kita pulang. Ini sudah petang. Tidak baik berada disini saat petang. Banyak setan.”
“ Ah, nenek. Nenek tidak percaya hal-hal gaib seperti itu kan ?", kata sang cucu. " Kenapa ya, Nek setiap saya berada disini saya merasakan kebencian yang luar biasa pada tempat ini. Tapi saya sama sekali tidak ingat apa yang terjadi. Nenek tahu?”, lanjutnya.
“ Tidak tahu, Cu. Sudahlah jangan dipikirkan. Ayo kita pulang!”, paksa sang nenek.
Akhirnya sang cucu dan nenek itu beranjak pulang kerumah mereka. Sang cucu yang dahulunya sang anak merasa ingin tinggal. Namun, ia tak mau meninggalkan neneknya pulang sendiri. Ia menengok ke jalan setapak itu, dan sekilas ia seperti melihat seorang wanita melambai padanya dengan senyum terukir indah di wajahnya.
Nice cerpen, bisa membawa pembaca pada setting tempat, waktu, dan kondisi jiwa si anak tsb... Lanjutkan!!
ReplyDelete